Home »
» Serial "Cinta Dilematik"
Serial "Cinta Dilematik"
Amoe Hirata | 22.41 | 0
komentar
Serial "Cinta Dilematik" Bagian: I
by Mahmud Budi Setiawan on Saturday, August 21, 2010 at 9:08am
"Ketika Cinta Harus Memilih"
Senja hari itu langit begitu hitam pekat, tertutup kepulan asap yang sudah siap menurunkan air hujan. Petir dan geledek bergemuruh dengan penuh bisingnya. Dalam kondisi demikian di sudut desa Jembar Sari rumah keluarga Bpk al-Kindi terjadi pertengkaran hebat. Bermula dari musyawarah keluarga hingga akhirnya terjadi konflik.
Dino putra bpk al-Kindi sedang menghadapi posisi sulit. Di senja petang itu ia di mintai ketegasan oleh bapaknya untuk memilih. Dino merasa kebingungan menjawabnya. Dalam hati ia berandai:"Andai aku bisa mendapat keduanya". Dua pilihan rumit itu ialah antara meneruskan study kuliahnya ke Jerman dengan menikah dengan Puspita Sari.
Melanjutkan study ke Jerman sudah menjadi cita-citanya sejak SMA. Setelah lulus SMA ia mencoba mengikuti tes beasiswa study ke Jerman. Tak di sangka ia lulus tes dan mendapat nomor urut satu dari dua ribu siswa tanah air yang mengikuti tes. Ia begitu gembira dan langsung sujud syukur. Mendengar beritaitu pak al-Kindi senang bukan main, ia langsung memeluk anak semata wayangnya itu sambil menangis bahagia. Tak lama beberapa hari setelah itu ia mengadakan syukuran atas kelulusanya. Teman-teman SMA nya ia undang semua. Pada moment itujuga ia mau mengenalkan kekasihnya yang bernama Puspita Sari kepada bapaknya.
Berlangsunglah acara itu dengan lancar dan meriah. Di saat-saat acara berlangsung ia memanggil bapaknya. Pak, maaf Dino mau berbicara sebentar. Oh iyasilahkan nak. Jadi begini pak kalau bapak tidak keberatan saya ingin mengenalkan kekasih Dino. Apaaaa!!! Astaghfirllah naaak, kekasih katakamu? Kamu pacaran ya? Istighfarrr naak, dari dulu bapak sudah mengajarimu pelajaran agama kenapa kau melakukan tindakan yang a moral itu?
Pertanyaan yang bertubi-tubi itu membuat Dinosedikit takut dan gemetaran. Eeeem....bukan begitu maksud Dino pak, Dino tidak pacaran Cuma hanya ingin mengenalkan calon istri Dino. Namanya Puspita Sari. Anaknya alim, baik dan shalihah. Meskipun ia sekolah di SMA ia tetap memakai jilbab. Di kelas ia menjadi idaman siswa. Sampai pada suatu ketika setelah kelulusan saya merasa tertarik dan ingin mempunyai hubungan serius denganya. Saya meminta bantuan Lina(Sepupu Dino), untuk menyampaikan niat saya pada Puspita....al-Hamdulillah ia menerima saya.
Baik Din, sekarang begini saja, kamu kenalkan saja anak nitu pada bapak. Masalah setuju atau tidak kita musyawarahkan saja nanti sore setelah acara selesai. Di kenalkanlah Puspita pada bapak al-Kindi.Tak ada sepatah katapun yang dia ucapkan nya kecuali hanya buraian senyum khasnya.
Acara sudah selesai. Dengan tergopoh Dino segera mencari bapaknya. Setelah dicari, ternyata bapak al-Kindi sedang khusyu di atas ranjang kamarnya memandangi photo mendiang isrinya. Dino merasa haru,ia melihat mata bapaknya berkaca-kaca, seolah menyimpan kesedihan. Bapak...kenapa menangis? Kangen sama ibu ya?. Oh tidak kok Din. Bapak hanya teringat washiat mendingan ibumu, bahwa kamu jangan menikah dulu sebelum mensukseskan study dan sudah memiliki hidup mapan. Sebenarnya bapak bukanya tidak setuju, hubungan kamu dengan Puspita, cuman kamu harus melaksanakan washiat ibumu.
Saya bukanya tidak mau melaksanakan washiat ibupak. Masalahnya, saya sudah mengikat hubungan dengan Puspita dan saya berjanjiakan segera menikahinya. Ia merupakan gadis langkah yang pernah saya jumpai dan cintai pak. Seumur-umur baru dia yang bisa membuat saya jatuh cinta. Mungkin tindakan saya ini terkesan terburu-buru. Namun, jujur pak saya sungguh mencintainya. Seminggu lagi saya harus segera melamarnya. Kalau tidak, ia akan segera menuruti saran abahnya untuk ikut pondok Tahfidz al-Quran di pondok al-Karimah.
Maaf Din, bapak tetap tidak setuju. Akuingin kamu menuruti washiat ibumu. Sekarang kamu fokus saja untuk persiapan study ke Jerman. Kan tinggal satu bulan lagi. Aku tidak mau konsentrasimu pecah. Keputusan bapak sudah bulat. Dino diam tak bergeming mendengar jawaban ayahnya. Matanya merah, menahan air mata kesedihan. Dengan lantang ia berbicara:" Apakah bapak tega jika nanti di Jerman aku terjerumus pada jurang maksiat? Aku ingin menikah dengan dia supaya aku tidak terjerumus pak. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun sama bapak. Kenapa,disaat aku meminta sesuatu bapak menolaknya? Suara yang keras dan lantang itu ternyata membuat pak al-Kindi tersingung berat. Secara reflek tangan pak al-Kindi menampar pipi Dino. Jadi hanya karena seorang gadis itu kamu tega berani berkata lantang? Kenapa kamu jadi berani membantah sama orang tua? Sekali lagi camkan baik-baik, bapak tidak akan mengubah keputusan, sekarang terserah kamu, pilih terus lanjut study ke Jerman atau gadis itu? Kalau kamu lebih memilih gadis itu pergi dari rumah ini.
Dino duduk lemas mendengar sikap keras ayahnya. Suara geledek dan petir terasa turut menambah sedih hatinya.Sekarang ia merasa bingung. Apa yang harus ia lakukan. Ke duanya sama-sama berat. Apakah ia harus menuruti bapaknya, atau meneruskan keinginanya menikahi Puspita. Hatinya sedang berkecamuk. Yang jelas, dalam relung hatinya ia mau mendapat kedua-duanya. Dalam hati ia berandai:" Andai aku bisa mendapat keduanya". Tetapi fakta memaksa dia harus memilih. Kira-kira apa yang akan di pilih oleh Dino? Tunggu serial berikutnya.
Serial "Cinta Dilematik" Bagian: II
by Mahmud Budi Setiawan on Saturday, August 21, 2010 at 4:41pm
"Cinta Tak Kunjung Menjawab"
Di sepertiga malam yang sunyi, beratus-ratus gemintang terlihat indah semburat. Angin sepoi-sepoi. Suasana begitu sepi. Di tengah sepi itu Yang ada hanya suara jangkrik dan kelelawawar yang sedang menikmati buah jambu yang matang. Malam itu, di samping sungai desa Mambang Legi terlihat sorot remang-remang lampu kamar yang sedang menyala.Tepatnya, di rumah bapak Kh. Ahmad Sunardi selaku abah dari Puspita Sari.
Ketika itu, Puspita Sari sedang asyik bermunajat menunaikan shalat Tahajjud. Besok adalah hari ke tujuh dimana Dino berjanji akan melamarnya. Perasaanya tidak karuan senangnya. Rasa bahagia dan kengen seolah menyelimuti hatinya. Mungkin ia baru mengalami apa yang namanya cinta. Seharian itu wajahnya cerah dan banyak senyum. Abah dan Uminya sampai merasa heran, ada apa gerangan dengan anak ke tiganya ini kok tingkahnya tidakseperti biasanya.
Dalam munajatnya itu ia berdoa:" Ya Allahampunilah hamba yang penuh khilaf dan dosa ini. Aku memohon kepada-Mu ridhailah hubunganku dengan Dino jika itu memang yang terbaik buat kami. Jagalah kami. Lindungi kami dari hal-hal yang buruk. Kami sudah ingin menjalin hubungan yang suci ya Allah agar terhindar dari makshiyat kepada-Mu. Kabulkan permintanku ya Allah. (Dengan sangat optimis ia menutup doanya dengan Amiiiin).
Pagi sudah menjelang. Tepatnya pukul 09.00 pagiDino berjanji akan melamar Puspita Sari. Jantung Puspita sari berdegup kencang menunggu datangnya hari penting itu. Sedari pagi ia sudah menyiapkan segalanya.Abah dan Uminya semakin heran karena memang keduanya tidak tahu apa yang bakalterjadi. Puspita sengaja merahasiakanya sebagai kejutan untuk Abi Uminya tercinta.
Jam menunjukkan pukul 10.00. Dino tidak kunjung datang. Perasaan khawatir dan cemas segera datang menghantui benak Puspita. Ia bingung. Dino tidak bisa di hubungi, hpnya tidak aktif sms juga tidak di balas.Ia berusaha untuk menghibur dirinya dengan ungkapan:"Sabar....sabar...barangkali mas Dino masih ada acara". Hingga pukul 11.00 nampaknya Dino belum datang juga. Kesabaran baja Puspita semakin terkikis oleh resah dan bimbang yang menjadi-jadi.
Di tengah kegalauan itu tiba-tiba terdengar dari depan rumahnya suara mobil berbunyi. Segera ia lari menuju ruang tamu melihat siapa yang datang. Barang kali mobil itu adalah Dino dengan pa kal-Kindi. Perasaan itu menjadi buyar ketika yang keluar ternyata bukan Dino. Ketika itu yang datang adalah temanya sendiri yang bernama Sinta Aulia bersama lelaki yang tidak di kenal puspita.
Di ketoklah pintu rumah dengan lembut oleh Sinta...tok..tok..tok..Assalamualaikum..Wa'alaikum salam....hai Sin apa kabar?Baik-baik saja kan?Kok ga ngbari sih kalau mau kesini? Tau gitu kan aku bisa siap-siap bikin jamuan untukmu. Oh ya aku kangen banget loh ma kamu soalnya hampir dah sebulan lebih kita ga ketemu. Oh iya ngomong-ngomong kamu lanjut kuliah dimana?
Maaf deh Sar, ku sengaja bikin kejutan nih, akubaik-baik aja kok, aku juga kangen ma kamu, aku jadi kuliah di UGM ngambil jurusan Komunikasi. Oooo...gitu toh....oh iya sampai lupa...mari-mari silahkan duduk(sambut Puspita). Sar, kenalkan ni sepupu saya namanya Aji kurniawan sedang menjalani progam S2 di universitas Madinah.
Sar, abi dan umi kamu ada di rumah ga? Ohada...emang kenapa Sin?..emmm..ga Cuma pingin ngobrol sebentar...ok bentar ya bentar ku panggil mereka sambil ku bikin minuman buat kalian. Abi..Umiii....ada tamu nih...temen Puspita pingin ketemu abah dan umi. Keluarlah keduanya keruang tamu menyambut kedatangan mereka.
Begini pak maksud kedatangan saya, ingin mengantar sepupu saya ini namanya Aji Kurniawan calon MA di Universitas Madinah. Ia sekarang lagi liburan, jadi menyempatkan diri untuk pulang. Nah, tujuan kepulanganya ini ingin mencaricalon istri jadi saya tunjukkan kemari, maaf ya pak kalo kurang berkenan.
Dak usah sungkan-sungkan dek, bapak malahs eneng lo kedatangan tamu, apa lagi jauh-jauh dari Madinah. Bapak sama ibu sebenarnya setuju-setuju aja apalagi dapat anak shaleh seperti dek Aji. Cuman bapak harus menanyakan dulu ke Puspita tentang rencana ini. Setahu bapak sih Puspita belum ada calon.
Hayoo...lagi ngomongin apa nih kayaknya seru banget....mari-mari silahkan diminum jus mangganya seger banget lo(saji Puspita).Begini nak kita bisa ngomong sebentar didalam? Ada masalah penting yang mau abah umi bicarakan sama kamu. Baik bah silahkan. Jadi begini, kamu tahu ndak cowok berkopyah di depan tadi? Iya bah itu sepupu Sinta calon S2 Universitas Madinah. Tujuan dia kemari ingin melamarmu. Dimana menurutmu?. Anaknya baik, tampan dan shalih loh,kalau bisa segera jawab.soalnya moment kaya begini sangat langkah. Kamu sendiri kan belum ada calon kan?
Puspita merasa sangat bingung mau menjawab apa.Sedang dia sudah terikat janji sama Dino. Disisi lain ia sangat cinta Dino.Masalahnya itu tidak di ketahui oleh abah dan uminya. Dino juga tidak datang-datang. Mau menolak ia tidak tega sama abah uminya karena selama ini keduanya tidak pernah sampai meminta dengan mendesak seperti ini.
Dalam kondisi pelik ini tiba-tiba ia mendapatkan sms dari Dino yang isinya:" Assalamualaikum...Puspita, sebelumya aku minta maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk datang kerumahmu...aku sedang dilanda masalah besar...aku harap kamu tidak kecewa...beri kesempatan tiga hari lagi...aku masih ingin menyelesaikan maslahku ini...wsslm".
Kira-kira bagaimana Puspita menyikapi kondisi pelik ini? Mampukah ia terbebas dari masalah ini? Apa kira-kira yang akan di pilih olehnya? Menyanggupi permintaan Dino atau menerima lamaran Aji Kurniawan? Atau malah pergi ke pondok al-Karimah untuk mengikuti tahfidz al-Quran? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita tunggu serial berikutnya.
Serial "Cinta Dilematik" Bagian: III
by Mahmud Budi Setiawan on Saturday, August 21, 2010 at 11:25pm
"Hingga Cinta Suci Teruji"
Siang hari di desa Jembar Sari hawa begitu sejuk. Sinar ultraviolet yang di muntahkah Matahari seolah tidak begitu terasa. Ini karena, di samping banyak terdapat pepohonan yang rindang, daerahnya belum tercemari polusi. Konon, desa ini dulu di jadikan tempat wisata oleh kerajaan-kerajaan besar kala itu. Banyak terdapat pemandangan indah. Dari sungai, air terjun hingga gunung. Siapapun yang mendatangi desa tersebut pasti merasa nayaman dan tentram.
Kesejukan yang tertebar di desa itu nampaknya hambar di kediaman pak al-Kindi. Di dalam kamar tidurnya yang berukuran empat kali lima Dino sedang termangu seorang diri. Sudah hampir tiga hari selain shalat dan makan kerjaanya hanya melamun dan melamun. Ia merasa begitu suntuk. Seolah bumi ini teramat sempit. Sampai sekarang Puspita Sari belum juga membalas sms-nya. Ini memang salahku, coba seandainya aku tidak ngomong ke bapak pasti ini tidak akan terjadi(gumam Dino).
Lamunanya sirna ketika ia mendengar telpon rumahnya berdering. Ia amat bersemangat mengangkatnya siapa tahu yang nelpon adalah Puspita Sari. Ya halo assalamualaikum....ni dari siapa yah? Waalaikumsalam....Mas maaf menganggu apa benar ini kediaman bapak al-Kindi? Iya betul, ada apa ya bu? Begini mas bapak al-Kindi sekarang lagi dikamar UGD tadi pagi sekitar jam sembilan beliau pamit pulang dari kantor karena ada keperluan di rumah katanya. Pas di pertengahan jalan mobilnya tertabrak truk. Bapak luka parah. Mas cepat kesini ya.
Tak terasa air mata Dino menetes dengan begitu banyaknya. Orang tua satu-satunya itu sedang melewati masa-masa krisisnya.Dengan tanpa basa-basi di langsung meluncur ke rumah sakit Bakti Kita.Sesampainya disana, ia langsung menuju kamar UGD rupanya di depan kamar itu pak Sudarsono selaku wakil direktur dan bu Yayuk selaku skretaris sedang menunggu. Paak...buuk...bagaimana kondisi bapak? Dek....luka bapak kamu sangat parah...kepalanya bocor..kaki kiri dan tanganya patah. Kita berdoa saja kepada Allah semoga beliau dapat melalui masa kritisnya.
Setelah menunggu hampir satu jam dokter yang mengoprasi pak al-Kindi mendatangi Pak Sudarsono. Pak mana ya yang anaknya pak al-Kindi?. Oh ini pak, memangnya kenapa? Beliau memanggilnya sekarang juga dikamar UGD. Berlarilah Dino ke kamar itu. Dengan suara lirih dan berat pakal-Kindi berkata kepada Dino. Naak maafkan bapak. Mungkin nyawa bapak tidak lama lagi. Aku harap kamu memenuhi washiat ibu dan bapakmu untuk tetap melanjutkan study hingga sukses. Semakin lirih tak terdengar suaranya hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Bapaaaaaaaaaak.....Dino berteriak dengan sekencang-kencangnya. Dia seolah tidak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya sekarang. Bapak semata wayangnya yang tiga hari kemaren bertengkar denganya sekarang telah menginggalkanya pergi untuk selama-lamanya. Ia merasa bersalah. Karena tak kuasa menahan kenyataan itu Dino sampai terjatuh pingsan.
Esok hari Dino siuman. Dia meronta dan bertanya mana bapak saya...mana bapak saya?....Dek bapak sudah pergi, kemaren sore sudah di makamkan....doakan aja semoga arwahnya di terima disisi Allah(balas Pak Sudarsono menenangkan Dino).
Dikala kesedihan menguasai dirinya, tiba-tiba hp-nya berbunyi.
Ia mendapat sms dari Puspita sari:"Assalamualaikum mas Dino, Dengan rasa sesal yang amat tak terkira aku minta maaf kepadamu, tiga hari yang lalu ketika kamu tidak datang ada seorang calon S2 dari Madinah melamarku. Jujur aku merasa bingung. Dua hari aku masih belum menjawab lamaranya. Karena aku masih menunggu kedatanganmu. Sampai hari ketiga kamu belum juga datang. Dengan sangat terpaksa dan sulit akhirnya aku menerima lamaranya dengan tetesan air mata mas. Aku tidak ingin menyakiti hati abah dan umi mas. Sekali lagi dari lubuk hatikuyang terdalam aku minta maaf. Wasslamualaikum".
Apa yang akan dilakukan oleh Dino? Mampukah ia terbebas dari jerat-jerat cobaan yang menguji kesucian cintanya? Kita tunggu saja pada serial berikutnya.
Serial "Cinta Dilematik" Bagian: IV
by Mahmud Budi Setiawan on Saturday, August 21, 2010 at 11:39pm
"Bayang-Bayang Cinta"
Sore hari di desa Mambang Legi langit begitu cerah, awan dan mega seoalah malu-malu menampakkan dirinya. Sekawanan burung merpati terbang kompak dengan gaya khasnya. Angin semilir menampapakkan rasa persahabatanya. Terlihat hanya kebahagiaan yang tercermin dalam suasana sore itu.
Sore ini, Aji Kurniawan bersama keluarga akan melamar Puspita Sari. Aji begitu bahagia mendapat calon istri seperti Puspita. Dari segala sisi sangat pas dengan kriterianya. Ia sangat bersyukur kepada Allah telah menganugerahkannya calon istri yang cantik dan shalihah.
Sampailah rombongan di rumah pak Ahmad Sunardi. Banyak keluarga dari pihak bapak Ahmad Sunardi yang turut serta mengiring acara lamaran itu. Di dalam kamarnya Puspita hanya duduk-duduk di depan kaca kamar tidurnya. Tatapanya kosong. Meskipun raga di dalam kamar tapi jiwanya terbang tiggi dalam istana lamunan. Agaknya, bayang-bayang cinta Dino masih tak bisa lepas dari alam pikirnya. Hatinya seakan tak mau melepaskan bayang-bayangnya.
Melihat Puspita berpagut tangan di pipi, bengong dan menatap kaca, uminya Hani'am segera menegurnya. Puspita! Ada apa toh kok kayak murung gitu? Bukan malah seneng? Kamu tidak bahagia ya? Oooh tidak ko Mi, Puspita hanya merasa sedikit gugup karena ini merupakan hari pertama aku bertunangan. Hanya itu yang di sampaikan oleh Puspita kepada Uminya. Dalam hatiia membatin:" Astaghfirullah....ampuni hamba-Mu ini ya Allah yang masih belum bisa melupakan Dino, hati ini begitu rapuh, kuatkanlah hamba untuk menghadapi kenyataan ini".
Acara berlangsung dengan lancar. Dalam acara itu Arjuna berjanji akan menikahi Puspita setelah menyelesaikan progam S2-nya di Madinah. Semua pihak dari masing-masing keluarga telah sepakat. Diberikanlah cincin pertunangan itu oleh ibu Intan Sartika ibu dari AjiKurniawan.
Selepas acara pertunangan, diam-diam Puspita berunding dengan abah uminya. Bah...bagaimana kalau sela-sela waktu menunggu mas Aji ini Puspita gunakan untuk ikut tahfidz al-Quran di pondok al-Karimah....pernikahan Puspita kan masih setahun lagi dalam waktu segitu kanal-hamdulillah jika Puspita bisa menghafal seluruh al-Quran. Tanpa banyak bicara pak Ahmad langsung menyetujui ide itu. Dari dulu ia bercita-cita ingin mempunyai anak yang hafal al-Qur'an.
Di sebrang desa Mambang Legi sekitar dua kilo meter tepatnya di desa Jembar Sari sedang diadakan acara selamatan pelepasan kepergian Dino. Tidak seperti hari-hari yang lalu Dino sekarang nampak lebih ceria. Ia telah membulatkan tekad untuk melanjutkan studynya ke Jerman. Ia sadar bahwa Puspita sudah dilamar orang. Di samping itu yang membuat dia semakin mantap ialah ia teringat pesan mendiang ibunya:" Nak apapun yang kamu inginkan akan kamu dapatkan jika memang itu di takdirkan Allah. Tapi, jika tidak Allah ijinkan maka meskipun kamu kerahkan segenap tenagamu hingga habis kamu tidak akan pernah mendapatkanya".
Sebelum berangkat Dino mengirim pesan kePuspita:" Assalamualaikum...Maafkan aku yang lancang menyapamu....aku hanya mengucapkan selamat atas pertunangan mu semoga kamu bahagia....aku juga pamit kepadamu...Aku mau lanjut study ke Jerman...doakan semoga jalanku sukses....aku tahu sekarang jarak memisahkan kita...tapi aku hanya percaya pada takdir cinta yang ditetapkan Allah...Bila takdir cinta itu ternyata untukku maka kamu akan menjadi cintaku. Percayalah akan hal itu....Wassalamualaikum.
Mendapat sms dari Dino Puspita merasa sangat terharuh dan sedih.....ia tidak membalas sms Dino....karena jemari tanganya sudah tidak mampu lagi untuk menuliskan pesan kepadanya...ia tidak tega...betapa malangnya si Dino dia telah kehilangan kedua cintanya yaitu bapak al-Kindi danPuspita. Dalam hati ia hanya bisa berdoa...sukseskanlah mas Dino ya Rabb....Bilatakdir cintaku adalah bersamanya maka kokohkanlah cinta itu hingga waktu tiba. (Bersambung)
Serial "Cinta Dilematik" Bagian: V
by Mahmud Budi Setiawan on Monday, August 23, 2010 at 12:41am
"Balada Cinta Kasturi"
Pagi hari di Heidelberg pepohonan cemara terlihat sayu. Langit sedikit mendung tak bersahabat. Tidak seperti biasanya suhu dingin kota Heidelberg mencapai -0.3 C. Angin begitu kencang. Rasa dingin itu seolah menusuk-nusuk kulit Dino. Meskipun dia sudah memakai jaket, tutup leher dan kepala tebal tetap saja dingin itu merasuki kulitnya. Ini sangat wajar karena suhu di desanya berbeda jauh dengan suhu di sini. Meski demikian tak mengurangi semangatnya untuk pergi pagi-pagi menuju kuliah yang merupakan kebiasan baiknya.
Sudah hampir satu tahun Dino menjalania aktivitas kuliahnya. Dia kuliah di Universitas Heidelberg mengambil jurusan Kedokteran ini tak mengherankan karena memang salah satu universitas di Jerman yang tersohor dalam bidang kedokteranya ialah Universitas Heidelberg.
Sebagai mahasiswa asing dari Indonesia ia tergolong paling pintar dan prestisius. Penguasaan bahasa Inggris dan Jerman yang begitu memadai membuatnya semakin mudah melahab letelatur bahasa asing. Tidak hanya itu di juga cukup ahli penguasaan Bahasa Arabnya, ini karena sewaktu dirumah dulu bapaknya sendiri lah yang mengajari secara langsung Bahasa Arab juga penguasaan Kitab Kuning. Bapaknya pernah nyantri di pondok Gontor, maka tak heran meskipun Dino sekolah di SMA Negri kedalaman ilmu agamanya tidak bisa diremehkan.
Banyak mahasiswa-mahasiswa yang minta bimbingan padanya. Waktunya sangat padat. Dihabiskan untuk kegiatan organisasi seperti senat kekeluargaan dan kegiatan lainya. Ia sangat di horrmati dan disukai oleh mahasiswa dan dosen. Meski demikian ia tetap rendah hati dan tidak sombong.
Suatu ketika di perpustakaan kampus ia membaca buku, entah mengapa tiba-tiba ia teringat dengan Puspita Sari. Bagaimana ya kabar Puspita? Dia pasti sudah nikah dan bahagia. Astaghfiullah...kenapa akumasih mikirin dia bukankah dia sudah menjadi milik orang. Dengan segera ia alihkan perhatianya untuk kembali membaca buku. Saat sibuk membaca buku ia didatangi oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari Indonesia.
Kak permisi, maaf kami jika kami menganggu. Kami adalah mahasiswa baru Kedokteran. Kata teman-teman kakak nih orangnya pinter banget dan keren. Siapa saja pasti kenal kakak. Nah kami berencana meminta bimbingan pada kakak. Kira-kira ada waktu ga ya kak?
Sebenarnya saya biasa aja kok dik. Ga ada yang istimewa bagi saya. Saya seperti kalian juga. Kalau untuk bimbing sih sebenarnya saya kurang pantas. Tapi gini aja, saya akan berusaha membantu ga usah anggap saya pembimbing anggap saja belajar bersama. Tapi sebelum itu kita kenalan dulu biar lebih akrab.
Terimakasih ya kak. Baik perkenalkan saya Bagas. Yang ini Sharon, Mekar, Arjuna dan yang teakhir itu namanya Wangi Bunga Kasturi. Baik saya juga akan mengenalkan diri. Nama saya Dino al-Kindi. Panggil saja saya Dino. Saya berasal dari desa Jembar Sari di Jawa Timur Indonesia.
Baik, kita kan sudah saling mengenal, sekarang langsung saja kita tentukan kira-kira kapan waktu yang pas untuk belajar bersama. Yang jelas untuk hari Jum'at dan Sabtu saya tidak bisa. Terserah kakak aja deh kami menyesuaikan saja. Kami juga belum ada kesibukan paten kok selain kuliah. Baik,gimana kalau kita ketemu hari Senin, Selasa dan Rabu Sore. Ya ya...boleh tuh kami setuju. Ya udah kak terima kasih kami mau pamit dulu mau masuk kuliah. Silahkan melanjutkan bacaanya. Sekali lagi terima kasih lo kak. Ok sama-sama dek.
Seperginya mereka Dino sedikit bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa sebenarnya Wangi Bunga Kasturi? Ia kelihatan lain dari pada temen wanita yang lain. Meski ia tidak pakai jilbab tapi bajunya sangat sopan sekali tidak seperti yang lain. Ia juga sangat menjaga perilaku tidak over. Dino semakin penasaran siapa gerangan gadis itu. Wajahnya imut, cantik dan manis, tinggi semampai berambut ikal sebahu. Melihatnya ia jadi ingat lagi sama Puspita.
Astaghfirullah....jagalah hamba-Mu ini ya Allah jauhkanlah daripikiran-pikiran yang tidak-tidak. Berlangsunglah aktivitas belajar bersama itu hingga hampir satu tahun. Secara tidak sadar Wangi Bunga Kasturi selama ini tertarik dan memendam rasa pada Dino. Tapi ia hanya diam, sikapnya yang pemalu dan sangat menjaga diri membuatnya kuat untuk menahan diri. Dino menangkap sinyal-sinyal kea rah situ. Namun dia cuek. Sampai suatu ketika secara tidaksengaja sewaktu ia masuk perpustakaan ada sebuah agenda yang tak bernama melainkan hanya tiga kata saja WBK.
Ia buka lembaran itu untuk mencari identitas pemilik supaya bisa lekas di kembalikan. Sewaktu membuka halaman pertama ia kaget, namanya tertulis di judul tulisan paling depan:" Dino sang Dambaan". Melihat tulisan itu Dino secara tidak sadar tertarik membacanya hingga selesai. Rupanya benar itu adalah agenda Kasturi. Dino baru tahu jika selama ini Kasturi menaruh rasa padanya. Dengan segera ia menutup agenda itu dan segera keluar mengembalikan agenda itu ke Wangi Bunga Kasturi.
Kebetulan Sharon lewat di depan perpus maka dengan segera Dino menitipkan agenda itu pada Sharon. Shar, tolong berikan buku ini ke Kasturi barusan kakak lihat tertinggal di perpustakaan. Baik kak aku juga mau ketemu dia kok. Terima kasih ya. Ya kak sama-sama.
Kasturi, ni agenda kamu ya? Barusan kak Dino titip buku ini. Hah...kak Dino oh iya aku lupa....aduuuh...gimana ini kalau sampai kak Dino tau dan baca bisa malu sendiri aku. Emangnya kenapa Kasturi? Jadi di agenda ini aku menulis tentang dia karena juju raja Sharon aku suka banget ma dia makanya di agenda ini kutulis tentang dia sebagai sang dambaan. Heee....ya udah ga usah khawatir, kan mendingan kayak gitu biar dia tahu. Siapa tahu kalian berjodoh kan. Haaa....tapi aku malu banget tauu...giman coba kalau dia ga da rasa ma aku kan aku jadi ga enak sendiri dan malu lagian ni yah kita kan bimbingan denganya jadi tambah malu aja kan kalau aku ketemu nanti.
Kala itu Dino berpikir dengan cukup serius diperpustakaan. Apa sebaiknya sikap yang harus dia ambil. Secara tingkah laku Kasturi tergolong baik. Apa salahnya jika ia mencoba menjalin hubungan serius dengan Kasturi. Ini supaya terhindar dari perbuatan maksiat dan tidak ingat lagi sama Puspita Sari.
Akhirnya malam itu juga ia datang kerumah Kasturi untuk melamarnya. Baru ia tahu ternyata Kasturi adalah anak salah satu pejabat Kedutaan Besar Indonesia di Jerman. Betapa kagetnya Kasturi ketika melihat kedatangan Dino ke rumahnya. Apa sebenarnya yang terjadi sampai-sampai pria pujaanya itu datang kerumahnya. Barulah ia tahu maksud kedatangan Dino. Bergetarlah hati Kasturi ia tidak percaya kalau Dino sedang mau melamarnya.Bagai di alam mimpi ia terbuai dalam imajinasi kebahagiaan yang selama ini ia harapkan.
Belum selesai rasa senangnya terpuaskan, seketika itu lamunananya buyar. Ternyata bapaknya kurang setuju. Alasanya ialah karena Kasturi masih terlalu muda dan masih kuliah ditambah yang lebih inti karena Dino beragama Islam. Jadi, Dino akan di setujui lamaranya jika Kasturi sudah menyelesaikanstudy S1-nya dan Dino harus masuk agama Kristen.
Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh Dino, apakah ia akan pertahankan agama dan idealismenya atau akan menyerah pasrah dengan syarat dari orang tua Kasturi. Kita tunggu saja episode selanjutnya.
Serial Cinta Dilematik Bagian: VI
by Mahmud Budi Setiawan on Friday, September 24, 2010 at 12:38am
Ratapan Cinta Haramain.
Tengah hari di Makkah al-Mukarramah hawa sahara lagi mencapai puncaknya, debu-debu bertebaran di hempas angin. Matahari berada pada titik tengah pas, menyajikan hawa panas yang siap menyengat kulit-kulit manusia. Dari kejauhan terlihat fatamorgana lagi menari-nari bagai penari perut di Mesir. Hawa mencapai 40 derajat celcius. Pada umumnya kebanyakan orang lebih memilih tinggal diam dirumah memanjakan diri dengan sejuknya AC.
Lain halnya dengan Aji Kurniawan. Kondisi yang sangat panas tidak membuatnya surut untuk keluar dari asramah. Hari ini ia ada janji dengan Doktor Pembimbingnya. Kemaren sore lewat hp keduanya telah mengadakan kesepakatan untuk bertemu di masjidil Haram guna membicarakan judul tesis yang akan di ajukan. Doktor itu bernama Aiman Abdul Mannan. Seorong Doktor karismatik yang sangat piawai dalam bidang study Ilmu Hadist.
Aji sudah merencanakanya dengat sangat matang. Untuk mensiasati agar tidak terlambat ia berangkat setengah jam lebih awal dari perjanjian. Dengan penuh semangat dia memasuki masjidil Haram. Alhamdulillah akhirnya sampai dengan selamat. Belum jua ia mau siap-siap shalat Tahiyyatul Masjid rupanya ia melihat sesosok lelaki tua yang ia kenal sedang duduk ta`zim membaca al-Quran. Tak hanya itu dia juga meneteskan air mata. Hati Aji begitu terenyuh, ternyata lelai tua itu ialah Doktor Pembimbingnya.
Setelah menunaikan shalat Tahiyyatul Masjid Aji segera menghampiri Doktor itu. Asslamu`alaikum ya Duktur. Wa`alaikum salam ya ibni. Maaf, sejak kapan Doktor duduk disini? Bellia menjawab:" Sejak setengah jam yang lalu". MasyaAllah ya duktur.Bukankah janjian kita masih kurang setengah jam lagi?. Kamu benar. Saya memiliki kebiasaan rutin untuk mendatangi perjanjian satu jam lebih dulu. Saya sangat menghormati perjanjian. Sehingga saya selalu datang sebelum waktunya agar bisa melaksanakanya tepat waktu. Nah untuk menunggu biasanya saya gunakan untuk memuroja`ah(mengulang) hafalan al-Quran.
Aji sangat kagum mendengar jawabanya. Bukan main, seorang Doktor yang memiliki kesibukan luar biasa mampu mendatangi perjanjian satu jam lebih dahulu. Sungguh lurbiasa katanya. Aku saja yang masih muda datangnya masih setengah jam sebelum perjanjian. Andai saja banyak orang yang seperti Doktor maka amanah terhadap janji akan menjadi tradisi yang baik. Aji membatin:" Ya Allah anugerahkanlah pada Doktor pembimbingku ini kebaikan dan keberkahan, dan mudahkanlah diriku untuk bisa meneladani kebaikanya".
Berdialoglah kedua orang itu mengenai judul tesis. Aji, kamu mau mengajukan judul apa?Duktur bertanya. Begini ya Syaikh, saya mau mengajukan judul " Relevansi ilmu Hadist dalam metodologhi ilmu modern". Aji, saya kira judul yang kamu ajukan cukup bagus. Baiklah aku akan menyetujuinya. Jadi begini, bulan depan saya minta kamu menyerahkan synopsis tesismu ini. Perlu kamu ingat, waktuku sangat terbatas, jika waktu itu kamu tidak bisa datang tepat waktu maka terpaksa kamu harus mengulang tahun depan. Ini karena saya akan segera pergi menuju Inggris selama setahun untuk menjawab permintaan dakwah.
Baik syaikh, InsyaAllah saya akan datang tepat waktu. Di tengah obrolanya terdengar kumandang adzan shalat Dzuhur. Dengan sigap, setelah mengadakan kesepakatan bersama keduanya menjawab adzan dan siap-siap menunaikan shalat. Selepas halat keduany saling berpamitan untuk undur diri. Terimakasih banyak ya Duktur atas waktu luangnya. Sama-sama nak semoga tesismu berjalan lancar. Assalamu`laikum….Wa`alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh. Sahut Aji.
Sebulan kemudian Aji sudah siap-siap untuk mengajukan sinopsis tesisnya. Ia akan bertemu dengan Doktor Aiman bakda shalat Ashar di masjidil Haram. Ketika ia sudah siap mau berangkat, teman sekamarnya yang bernama Abdur Rahman Siregar jatuh terkapar sakit. Waktu itu, tidak ada seorangpun yang ada di asramah karena sedang menghadiri daurah. Abdur Rahman terkena penyakit serangan jantung. Ia membutuhkan pertolongan segera. Bila terlambat maka nyawanya mungkin saja tidak terselamatkan.
Perasaan Aji berkecamuk bukan main. Waktu perjanjian tinggal lima belas menit lagi, sedang di depan matanya ada seorang teman yang membutuhkan bantuanya. Bila dia menolong maka dia akan terlambat bertemu Doktor Pembimbingnya. Bila terlambat maka konsekwensinya dia akan mengulangnya pada tahun depan. Dengan demikian janjinya untuk menikahi Puspita Saripun akan tertunda setahun. Ia sedang menghadapi posisi sulit antara menolong teman yang ada di depan mata dengan segera menemui duktur pembimbing menyerahkan sinopsis tesisnya yang bila gagal tentu saja pernikahan dengan Puspita akan gagal.
Apa yang akan di lakukan Aji dalam kondisi sulit itu. Apakah ia akan memilih ambisi pribadi untuk sukses study dan segera nikah dengan Puspita Sari ataukah ia lebih memetingkan kepentingan orang lain yang sedang sangat membutuhkan pertolonganya dengan segera. Kita tunggu kisah Cinta Dilematis selanjautnya.
Serial "Cinta Dilematik" Bagian: VII
by Mahmud Budi Setiawan on Sunday, October 10, 2010 at 1:17am
Nestapa Cinta Penjara Suci
Fajar menyingsing lembut. Panorama disekeliling pondok al-Karimah remang-remang tak terlihat jelas. Dalam hening itu, terdengar suara gaduh hewan-hewan sawah dan lain sebagainya; kokok ayam, suara katak, ringkikan jangkrik. Maklum lokasi pondok al-Karimah terletak di pedesaan, terlebih di belakangnya terdapat sawah yang luas. Para santri sudah berjejer rapi sejak jam 03:00 dini hari menunaikan shalat Tahajjud. Suara tilawah ayat-ayat al-Quran terdengar serempak dan syahdu. Biasanya, setelah menunaikan shalat Tahajjud para santriwati menunggu waktu shalat Shubuh dengan membaca al-Quran secara bergantian.
Puspita sari sedang khusyu membaca ayat-ayat al-Quran bersama teman-temanya. Dalam hati ia merasa bersyukur bisa mengikuti pondok tahfidz di pondok al-Karimah. Ini karena, banyak hal yang ia dapatkan, dari mulai kemandirian, kedisiplinan, kebersamaan, dan sifat-sifat baik lainya. Ditengah kekhusyuan itu terdengarlah kumandang adzan shalat Shubuh. Para santriwati bersiap-siap menunaikan shalat Shubuh berjama`ah. Mereka menunaikan shalat sunnah qabliyah dulu baru setelah itu baru menunaikan shalat Shubuh.
Ba`da shalat Shubuh, sebagaimana biasa, ada siraman rohani yang biasa disebut kultum(kuliah tuju menit). Kali ini diisi oleh ustdza Rahmah Sinta Adi Lesmana Lc, (ustadzah lulusan Mesir yang disamping pakar dalam ilmu din, dia juga pakar dalam bidang ilmu-ilmu umum). Pada kesempatan ini, ustadzah Rahmah mengupas tema Cinta Sejati. Beliau menandaskan bahwa cinta sejati pada dasarnya hanya milik Allah dan Rasul-Nya. Bila seorang muslim mencintai sesuatu melebihi kecintaanya terhadap Allah dan rasul-Nya maka ia telah menodai kesejatian cinta. Cinta Allah dan Rasul-Nya adalah diatas segala cinta. Cinta Allah dan Rasulnya merupakan indikasi kesempurnaan iman seorang muslim dan muslimah. Karena itu selayaknya bagi kita untuk selalu menempatkan cinta Allah dan Rasul-Nya diatas segala cinta karena hanya dengan itu kita bisa menemukan kesejatian cinta.
Selepas pemaparan kultum, para santri diberikan kesempatan untuk bertanya kepada ustadzah Rahmah. Dengan cepat dan segera Puspita Sari mengacungkan telunjuknya tak sabar untuk bertanya. Silahkan(kata ustadzah Rahmah). Maaf ustadzah, kalau cinta sejati itu hanya untuk Allah dan Rasul-Nya lalu bagaimana cara kita memposisikan cinta antara lawan jenis dengan cinta sejati itu? Apakah cinta kita yang tulus dan dalam terhadap laki-laki dapat merusak kesejatian cinta? Bagaimana cara kita berinteraksi dengan cinta selain Allah dan Rasul-Nya? Mungkin hanya ini saja uztadzah, kurang lebihnya saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Dengan santun dan senyum lembut ustadzah Rahmah menjawab:" Saya akan menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan satu jawaban saja:"Posisi cinta lawan jenis dengan cinta sejati ialah cinta lawan jenis di letakkan di bawah cinta sejati. Ini bukan berarti ada pertentangan antara cinta sejati dengan cinta lawan jenis. Intinya kualitas dan kuantitas cinta sejati tetap di jadikan acuan cinta. Pada dasarnya cinta selain Allah dan Rasul-Nya harus di dasari oleh semangat cinta sejati karena pada dasarnya jika cinta itu tidak dilandasi oleh semangat ibadah menuju cinta sejati maka kita telah menodai kesejatian cinta. Cara kita berinteraksi dengan selain cinta sejati ialah dengan selalu membangun kesadaran internal bahwa pada dasarnya cinta selain sejati merupakan salah satu serpihan cinta yang di rajut dan dijalin untuk mendapat kesejatian cinta. Bila melebihi kadar tersebut maka akan terjadi ketidak harmonisan interaksi cinta, ini dapat berdampak buruk pada cinta sejati kita.
Bertepuk tanganlah seluruh santri setelah mendengar jawaban ustadzah Rahmah. Puspita merasa senang dan puas atas jawabanya. Ada satu hal yang janggal di benak Puspita; Mengapa sejak ia bertanya sampai selasai di jawab, ustadzah memandangnya terus, dan pandangan ini dirasanya sebagai pandangan yang tak biasa. "Ada apa ya gerangan dengan ustadzah ini?"(Tanya puspita pada diri sendiri). Rupanya memang benar. Setelah acara kultum itu ustadzah Rahmah menemui kepala asramah pesantren. Ia pingin tahu banyak perihal Puspita. Ia mendapat keterangan bahwa disamping cantik, Puspita adalah ahwat yang cerdas dan baik budi pekertinya, hanya dalam waktu satu tahun dia sudah mampu menghafal al-Quran dan menguasai qira`ah sab`ah(model tujuh bacaan masyhur al-Quran), ia juga sangat di senangi dan disayang oleh teman-temannya.
Seteleh mendapat keterangan itu, ustadzah Rahmah Sinta Adi Lesmana segera menemui Puspita Sari. Kebetulan waktu itu Puspita Sari sedang mendapat telfon dari keluarganya di kantor. Akhirnya dengan sabar ustadzah Rahmah menunggunya di masjid. Puspita Sari mrndapat kabar kurang baik. Abahnya mengatakan bahwa Aji Kurniawan memintanya untuk menunda perkawinanya setahun lagi mengingat ia telah gagal mengajukan judul akibat menolong temanya yang lagi terkena serangan jantung. Tapi Aji sendiri sudah menyerahkan semua keputusan kepada Puspita Sari. Kalau siap menunggu maka hubungan bisa terus berlanjut kalau tidak maka Puspita bebas untuk memutuskan hubungan pertunangan yang tlah terjalin.
Puspita agak kaget mendengarnya. Ia bilang pada abahnya:" Bah, Puspita minta maaf, tolong berikan waktu beberapa hari untuk memutuskanya. Untuk sekarang ini Puspita masih belum bisa mengambil keputusan". "Baiklah ndok kalau memang begitu, mungkin sekian dulu, abah tunggu jawabanmu, abah harap kamu jangan terlalu sedih".
Selepas menerima telfon dari abahnya, Puspita segera menuju masjid untuk me-muroja`ah(mengulang) hafalanya. Dari kejauhan terlihat ustadzah Rahmah sedang duduk menunggunya. "Puspita sebelumnya saya minta maaf kalau sedikit mengganggu, saya sudah banyak mendengar tentang kamu. Waktu saya sangat sedikit. Makanya saya akan to the point saja. Begini saya sedang mencarikan calon istri untuk keponakan saya, namanya Alyan Hisan; lulusan S2 Universitas Indonesia. Al-hamdulillah secara materi dia sudah mapan. Orangnya juga masih mudah dan shalih, dan ingin segera mencari calon istri. Kira-kira kamu mau tidak menjadi calon istrinya?.
Puspita merasa bingung. Mana kira-kira yang akan dipilih oleh Puspita? Kalau memilih Aji Kurniawan, dia harus menunggu setahun lagi, ini otomatis akan merusak rencana yang sudah ia rencanakan selama ini. Kalau dia memilih Alyan Hisan memang ia bisah langsung menikah tahun ini. Tapi, ia merasa tidak tega dan kasihan kepada Aji Kurniawan.
Siapakah yang akan dipilih oleh Puspita Sari? Kita tunggu pada serial selanjutnya.
Serial Cinta Dilematik Bagian:VIII
by Mahmud Budi Setiawan on Wednesday, November 3, 2010 at 12:09am
Pertaruhan Cinta
Malam hari kota Heidelberg sedang dibanjiri hujan salju. Musim dingin nampaknya tak kunjung usai. Kondisi demikian biasanya membikin kebanyakan orang males keluar rumah. Mereka lebih suka menghangatkan diri didalam rumah sambil menikmati kopi susu dan minuman hangat lainya. Tak jauh dari kondisi dingin salju itu, Dino terlihat bersikap dingin dan cemberut seakan ada sesuatu masalah besar yang sedang menimpanya. Sepulang kuliah, tidak seperti biasanya ia langsung pergi menuju rumah sewaanya. Biasanya sepulang kuliah ia mampir dulu ke perpustakaan kampus.
Ia betul-betul terlihat bingung. Lagi-lagi ia dihadapkan dengan posisi sulit. Belum lama lamaranya ditolak oleh orangtua Wangi Bunga Kasturi, karena ia bersikukuh untuk bepegang teguh pada agamanya dan ingin segera menikahi Kasturi. Ternyata tidak sampai disitu, tadi pagi salah satu dosen wanitanya bernama Diana Lorenza juga sedang memberikan pilihan sulit pada Dino. Dia merupakan doktor utama penguji skripsinya. Diam-diam dosen itu menyukai Dino. Dino dikasih pilihan kalau mau lulus dia harus rela bercinta dengan dosennya. Kalu tidak ia terancam tidak lulus.
Dino masih termenung seorang diri. Ia disibukkan oleh pilihan sulit. Antara lulus S1 tapi bercinta dengan dosen yang tidak ia cintai itu, atau ia memilih tidak lulus tapi idealisme yang ia bangun selama ini akan gagal dengan sia-sia belaka. Rasa pusing semakin membebaninya. Disaat seperti itu ia ingat bapaknya pernah berpesan:” Nak, railah segala sesuatu dengan cara yang jujur dan tidak mengorbankan prinsip, bila engkau dihadapkan dengan pilihan sulit tetaplah berpegang pada kejujuran dan memegang prinsip, jangan sampai hanya karena idealisme engkau rela tidak jujur dan mengorbankan prinsip”.
Ingatan itu seakan datang sebagai solusi. Ia datang pada saat yang tepat. Hatinya sekarang sudah sangat tenang. Dia mantap akan memilih pilahan yang kedua yaitu rela tidak lulus demi mempertahankan kejujuran dan prinsipnya. Ia rela tidak lulus S1 jika harus mengorbankan prinsip nila yang telah ia pegang selama ini.
Memang benar-benar terjadi. Sewaktu Dino menyampaikan pilihan kedua dosenya tiba-tiba naik pitam dan mengancam tidak akan meluluskanya. Dengan sikap tabah dan tenang Dino menimpali:” Lakukanlah apa saja yang anda inginkan, bagi saya kejujuran dan prinsip itu lebih utama dari hanya sekedar kelulusan, saya heran di negara yang bebas ini masih ada pemaksaan-pemaksaan kehendak”.
Melihat Dino yang begitu kuat memegang prinsip itu Diana Lorenza tidak berdaya. Karena merasa kalah dan malu ia benar-benar akan tidak meluluskan Dino. Dalam hati kecilnya diam-diam ternyata takjub dan iba melihat ketabahan dan kekuatan Dino dalam memegang prinsip namun dia tetap bersikeras untuk tidak meluluskan Dino.
Pasca kegagalan studi yg dialaminya ia memutuskan untuk keluar dari kampus dan belajar secara otodidak sambil mengembangkan teori-teori yang diperolehnya selama belajar dikampus. Tak hanya itu ia rajin manjalin komunikasi dengan dokter-dokter ternama di kota itu hingga ia mendapat pengalaman yang luar biasa.Ketika Dino sedang asyik membaca buku ia mendapatkan sms dari pamanya; Ibnu Sina:” Dino bagaimana kabarmu? Kapan kamu balik ketanah air? Paman dan keluarga sangat kangen sama kamu, Kamu bilang kuliah disana tinggal dua bulan lagi, paman harap kalau sudah selesai kamu segera pulang karena perusahaan sedang membutuhkanmu, ada berita yang mungkin cukup bagus bagi kamu, Puspita sari denger-denger tidak jadi nikah dengan Aji yang lulusan Madinah, barang kali ini adalah kesempatan bagimu untuk segera melamarnya kembali sebelum dilamar orang, paman tahu kau masih mencintainya”.
Sms itu membuat Dino agak sedikit kaget. Gadis cinta pertamanya sampai saat ini ternyata masih belum menikah. Yang jelas dia akan mendapat peluang besar jika dia segera pulang dan melamarnya. Tapi ia agak ragu karena dengan pulang tanpa membawa ijazah seolah telah mengecewakan pihak keluarga dan merasa bohong kepada Puspita karena ternyata studinya gagal. Lagi-lagi ia bingung seolah berada dalam pertaruhan cinta. Kalau ia tidak pulang kesempatan akan lenyap. Kalau pulang dengan tanpa membawa ijazah dia akan mengecewakan keluarga dan merasa membohongi puspita.
Ia belum bisa menjawab. Ia hanya menulis puisi:
Pertaruhan Cinta
Ketika benih-benih cinta tumbuh indah mempesona
Menghiasi taman-taman jiwa yang bersemai sayang
Ku sambut bunga cinta dengan aroma kasih
Yang ku tebar melalui wangi janji setia
Tak kusangka keindahan itu diterpa badai
Hingga bunga itu tak dapat ku jamah dan kucium wanginya
Aku tak patah arang meski patah hati
Ku terus pergi jauh lalui rambu-rambu cinta
Hingga tanpa sadar bunga cinta itu kembali tumbuh mekar
Kalbu merasa gunda
Apakah aku harus memetik bunga cinta yang sama
Jiwa sedang menghadapi dilema
Dalam pertaruhan cinta
Serial Cinta Dilematik Bagian: Bag: IX
Bukan Cinta Biasa
Panorama dhuha begitu indah. Hawa begitu sejuk memanjakan .Embun pagi bening menyelimuti rerumputan dan tetumbuhan. Sungai-sungai mengalir sedang dan bening. Ikan-ikan di sungai begitu serentak berenang ba` sedang pentas dalam kontes renang. Kumbang-kumbang nampak cantik bergairah menghinggapi bunga-bunga mawar yang sefang mekardi taman pesantren al-Karimah.
Pagi ini, Puspita Sari sedang menunaikan shalat Dhuha dan istikharah. Begitu khusyuknya Ia shalat seolah tiada segala. Dia bukan main bingungnya. Menghadapi dua pilihan yang begitu sulit. Belum lagi terlaksana pernikahannya dengan Aji, ternyata ada lagi yang mau menikahinya. Sebenarnya Dia tidak akan bingung jika Aji akan menepati janjinya untuk nikah tahun ini. Berhubung study Aji agak tersendat akibat tesis yang belum terselesaikan, maka Aji menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Puspita.
Bagaimana tidak bingung dan sedih. Ia merasa sudah mengalami beberapa kegagalan untuk menuju mahligai rumah tangga bahagia. Untungnya Dia adalah wanita yang shalihah, sehingga apapun ujian yang menimpa akan dihadapi dengan hati yang lapang dan sabar. Ia ingat sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wassallam : “Begitu mengagumkan kondisi orang mukmin. Segala kondisi (yang dialami) itu baik baginya. Dan itu tidak dimiliki seorangpun kecuali mukmin. Jika Ia mendapatkan kebahagiaan bersyukur (dan itu) adalah lebih baik baginya. Dan jika Ia ditimpa kesusahan Ia bersabar (dan itu) lebih baik baginya(Hr. Muslim).
Dalam doa yang ia lantunkan Ia memohon: “ Ya Allah ampunilah dosa-dosa hamba-Mu ini. Tunjukkanlah yang terbaik bagi hamba. Bila memang Aji Kurniawan itu jodohku, maka permudahlah jalannya dan jika Alyan Hisan yang terbaik maka gampangkanlah. Aku berserah diri pada-Mu. Aku ingin membina mahligai rumah tangga bahagia. Aku ingin membina rumah tangga yang yang selalu mengingat-Mu. Yang kuingin bukan cinta biasa. Aku ingin cinta sejati menuju-Mu. Allahumma taqabbal du`aa`. Amiin.
=========================================================================
Di bandara Berlin, terlihat begitu ramai. Para calon penmpang terlihat berbaris rapi menunggu giliran chak in. Para petugas keamanan dengan penuh semangat mengecek satu persatu koper calon penumpang untuk jaga-jaga biar tidak ada tindakan kriminal.
Dengan agak tergopoh, Dino beserta rombongan segera cepat-cepat menuju bandara. Ini karena, jadwal keberangkatan yang seharusnya pukul lima sore dimajukan menjadi pukul tiga sore. Setelah dikonfirmasikan ternyata ada kesalahan teknis jadwal penerbangan. Waktu itu Ia diantar sama Bagas, Sharon, Arjuna, Kasturi beserta dosen dan koleganya.
Karena kemajuan jadwal inilah akhirnya persiapan Dino mengemasi barang-barang tidak efektif. Banyak sekali barang yang tidak terbawa. Ia hanya membawa yang penting-penting saja. Sebelum berangkat Ia berpamitan pada teman-teman satu persatu. Kemudian Ia meminta salah satu dosenya yang bernama Muhammad Wahed( sebelumnya bernama Friedrhic Ballach) untuk meminta doa pamitan. Dengan segera Ia berdoa: “Ya Allah, Mudahkanlah perjalanan Dino. Anugerahkanlah keselamatan. Kabulkanlah permohonannya untuk menggapai cinta sejati karena yang ia inginkan bukan cinta biasa. Pertemukan Dia dengan Puspita dalam mahligai rumah tangga jika memang itu menuju pada cinta sejati-Mu”.
=========================================================================
Gema takbir memenuhi masjidil Haram. Beribu-ribu orang berpakaian ihram sedang melaksanakan ibadah haji. Lantunan dzikir terlantun semarak. Wajah ceria penuh cinta tergambar pada wajah-wajah mereka.
Pada tahun ini, Aji berazam menunaikan ibadah haji. Dari dahulu Ia ingin melaksanakan ibadah haji. Nah, baru kali ini Ia bisa melaksanakan haji. Betapa senang dan syukurnya ia bertepatan dengan itu judul tesisnya diterima.
Di bawah naungan Ka`bah, Aji melaksanakan thawaf. Selesai thawaf Ia berdoa: “Ya Allah, Engkau adalah Maha Waduud. Bimbinglah selalu aku pada kesejatian cinta-Mu. Aku tak mau jatuh pada cinta terlarang yang dibangun berdasar maksiat pada-Mu. Aku ingin cinta fitri. Bukan cinta biasa. Bila Puspita Sari itu jodohku yang dapat mengantarkanku pada cinta sejati-Mu, maka pertemukanlah Aku dengannya dalam jalinan cinta”.
========================================================================
Suara merdu terlantun syahdu. Dihiasi dengan bacaan mulia al-Qur`an. Di serambi masjid al-Hikmah, Alyan Hisan lagi asyik membaca mentadaburi al-Qur`an. Pada waktu itu yang dibaca: wahai Tuhanku anugerahkanlah padaku dari isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami imam dari orang-orang bertakwa”(al-Furqan: 74).
Dalam batin Ia bergumam: “Mudah-mudahan Allah menganugerahiku isteri shalihah dan keturunan penyejuk hati dan menjadi penghulu orang-orang bertakwa. Semoga cinta itu adalah Puspita. Yang mengantarkanku pada kesejatian cinta. Bukan cinta biasa tak bermakna yang malah menjauhkanku dari Maha Pecinta”.
========================================================================
Serial Cinta Dilematik Bagian: Bag: X
Takdir Cinta
Pagi begitu cerah. Hawa begitu terasa nyaman. Pancaran enerji positif terasa menyelimuti desa Jembar Sari. Wajah-wajah optimis dari para pekerja yang ada di persawahan semakin membuat pemandangan menjadi indah. Pagi itu, tak seperti biasa desa Jembar Sari terlihat ramai. Dari mulut ke mulut tersiar kabar kedatangan Dinondari Jerman. Rupanya mereka penasaran dan tidak sabar menunggu kedatangan Dino. Dahulu, di desanya Dino dikenal sebagai pemuda yang baik hati, supel dan dermawan. Meskipun terlahir dari keluarga kaya, Ia tidakn pernah menyombongkan diri.
Di pelataran rumah Dino, desa Jembar Sari, terlihat ada beberapa prang yang sibuk masang terop. Keluarga mau menyambut kedatangan Dino dengan meriah. Sudah empat tahun lebih mereka tidak bertemu Dino. Pastinya, perasaan kangen sangat kuat menguasai hati mereka.
Segenap persiapan sudah sedemikian matangnya. Ibnu Sina(paman Dino) sedang mengawasi para pekerja persiapan penyambutan. Kemudian segera meluncur ke bandara Juanda untuk menjemput Dino. Diperkirakan Dino sampai sana pukul sepuluh pagi.
========================================================================
Dari kejauhan, di ponpes al-Karimah nampak ramai. Banyak mobil dan motor yang diparkir. Rupanya para wali santriwati sedang menjemput anak-anak mereka yang akan libur sekolah. Rencananya libur dua minggu. Kh. Ahmad Sudardi dan Hani`am segera menjemput puterinya. Ketika bertemu, mereka berdua tak kuasa menahan tangis bahagia. Segeralah keduanya berpelukan dengannya. Bagaimana tidak, anak semata wayangnya ini ternyata sudah hafal al-Qur`an tiga puluh juz.
Setelah berpamitan dengan para asatidz/dzah, Puspita dan orang tuanya segera mengendarai mobil menuju rumah. Katanya, di rumah Puspita sudah dimasakin masakan vaforitnya yaitu Bergedel dan sayur sop. Di tengah perjalanan, tiba-tiba abahnya bertanya: “Ndok! Gimana kabar Aji? Apa kamu sudah mengambil keputusan? Kalau memang sudah putus, Abah dan Umi sudah punya calon buat kamu, namanya Alyan Hisan”.
Puspita kaget. Dalam hati ia berujar: “Lho kok bisa kebetulan begini ya, padahal aku belum ngasih tahu ke mereka”. Baru diketahui kemudian, bahwa orang tua Puspita dan orang tua Alyan adalah sahabat dekat yang sudah lama ga ketemu. Ketika ketemu pada acara reoni sekolah mereka berbincang-bincang hingga sampai pada pembicaraan perjodohan antara anak mereka.
Belum hilang rasa kaget padi diri Puspita tiba-tiba HP-nya berdering tanda sms masuk. Bunyi sms itu demikian: ”Assalamu`alaikum Sar, gimana kabarmu? Semoga kamu selalu baik, ini Aku, Dino. Aku baru pulang dari Jerman, Kusempatkan untuk pulang, karena aku mendengar berita bahwa kamu ga jadi nikah sama Aji, Aku mau tanyak, apa masih ada kesempatan bagiku untuk menikahi dirimu? Bls gpl, Dino”.
=======================================================================
Sesampainya di rumah, Dino disambut begitu meriah oleh keluarga dan masyarakat desanya. Mereka secara bergantian menyalami dan merangkul Dino. Ada satu cewek yang terlihat malu-malu sedang bersamaan dengan seorang bapak paruh baya. Ternyata, cewek itu adalah Devi Angelina, anak dari bapak Sudarsono yang baru selesai kuliah dari Perancis. Penampilanya anggun, wajah cantik, oval, kulit kuning langsat, dan tingginya seratus enam delapan. Sebelum meninggal, Pak al-Kindi berwashiat pada pak Sudarsono agar menikahkan puterinya dengan anaknya.
Setelah menyalami tamu yang hadir, Dino beranjak kearah bapak Sudarsono. Dan Ia dikenalkan dengan puterinya yang bernama Devi Angelina. Dino belum tahu kalau Devi adalah cewek yang bakal dijodohkan dengannya.
========================================================================
Di kediaman Puspita Sari terlihat ada beberapa mobil yang diparkir di depan rumahnya. Tamu yang datang adalah keluarga Alyan Hisan. Bapak Vano Setiabudi dan Ibu Wulan Safitri beserta rombongan keluarga mau melamar Puspita Sari untuk anaknya yang bernama Alyan Hisan.
Semakin bingung saja diri Puspita. Dia dihadapkan pada posisi sulit. Cinta pertamanya meu melamar dia. Sedangkan di depan matanya sekarang ada juga yang siap melamarnya. Ia segera memasuki kamar. Berpikir dan merenung kira-kira mana yang harus Dia pilih. Bagaimanapu sulitnya Ia harus dengan cepat memilih meskipun ada pihak-pihak yang mungkin dikecewakan dengan keputusannya itu.
=======================================================================
Setelah debat alot dengan pamannya, akhirnya Ia memutuskan untuk menolak perjodohan yang diwasiatkan Bpk Al-Kindi. Meski ini berat, Ia harus memutuskan, karena Ia sudah sms ke Puspita untuk melamar dirinya. Akhirnya, kedua belah pihak tidak bisa apa-apa. Bagaimanapun juga memang pernikahan tidak bisa dipaksakan. Dengan segera Dino mengajak pamannya untuk pergi ke rumah Puspita Sari. Dino tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Belum selesai beres-beres rumah akhirnya pak ibnu Sina segera bergegas untuk menuju ke rumah Puspita. Tak ketinggalan pula di samping keluarga, Pak Sudarsono dan Devipun ikut. Devi penasaran, cewek kayak apa sih yang bisa sampai memincut Dino.
========================================================================
Abah dan Umi Puspita heran bukan main. Seumur-umur anak semata wayangnya itu tidak pernah mengucap kata “tidak” pada kedua orang tuanya. Setiap kali disuruh ia tidak komentar dan langsung dikerjakan. Tapi kali ini Puspita dengan tegas menolak lamaran Alyan Hisan. Memang ini sulit Bah, tapi aku harus ngomong sekarang mumpung belum terlambat. Sebelum Alyan Hisan sudah ada yang mau melamarku. Namanya, Dino. Abah pasti tahu anaknya. Dia adalah cinta pertamaku. Puspita harap abah bisa meridhainya.
========================================================================
Dalam perjalanan menuju rumah Puspita, Dino merasa bimbang dan kuatir, sampai saat ini Puspita belum menjawab sms-nya. Ia ga tahu pasti apa penyebabnya. Tapi Dia tetap meneruskan niat awalnya.
Ketika mau sampai di rumah Puspita, dari jauh Dino melihat ada banyak mobil di rumah Puspita. Sebelum ke rumah Puspita, Ia bertanya dahulu pada orang yang lewat disekitar jalan itu: “Maaf bu, Ada apa ya di rumah Puspita kok ramai-ramai?” Ibu menjawab: ”Ooooo...Anu dek Puspita mau dilamar oleh Alyan Hisan; putera bpk Vano yang kaya itu lo mas”.
Mendengar jawaban itu, Dino merasa lemas tak berdaya. Ternyata Dia sudah terlambat. Usahanya yang sedemikian besar seolah sia-sia. Sekarang terjawab sudah mengapa Puspita Sari tidak menjawab sms-nya. Ini merupakan ujian sangat berat bagi Dino. Kabar yang sedemikian indah dan membuat dia pulang ke Indonesia hanya terasa seperti fatamorgana. Memang terlihat menjanjikan hal-hal yang indah, bagus namun itu hanyalah ilusi.
Akankah Dino menyerah begitu saja? Tanpa berusaha menanyakan dan memperjuangkan cintanya meski pada kenyataanya Puspita sedang dilamar?. Bagaimana dengan Puspita yang sudah memutuskan menolak lamaran Alyan? Lalu bagaimana pula dengan Alyan? Bagaimana sikapnya beserta keluarganya ketika nanti lamarannya ditolak?. Kita tunggu saja pada cerita berikutnya.
=========================================================================
Related posts:
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar